Minggu, 17 September 2017

Hati yang Bersih Pembuka Pintu Surga






Abdullah bin Amr merasa penasaran dengan seorang lelaki yang disebutkan Rasullah sebanyak 3x sebagai penghuni surga kelak. Rasa penasarannya membuat beliau memberanikan diri untuk mengunjungi lelaki tersebut. Dengan alasan sedang bertengkar dengan ayahnya padahal ini hanya sebuah alasan yang sebenanrnya tidak terjadi. Maka Abdullah Bin Amr meminta izin untuk tinggal di rumahnya selama beberapa hari.
            Setelah berada dalam  rumah dengan si penghuni surga Abdullah Bin Amr tidak melihat ibadah khusus yang dilakukannya. Amar tidak melihat sesuatu yang istimewa dalam ibadahnya. Akhirnya Abdullah Bin Amr berterus terang bahwa kedatangannya hanya untuk membuktikan perkataan Rasullah. Akhirnya Lelaki itu menjelaskan bahwa ibadahnya sama dengan sahabat lainnya, seperti yang Amar saksikan. Namun dia  tidak pernah menyimpan niat buruk, dengki dan dendam terhadap sesama muslim ataupun yang lainnya. Akhirnya Amar menyadari bahwa kebersihan hatinyalah yang membuat lelaki tersebut berada di tempat yang mulia. Sesuatu hal yang mudah namun tidak bisa dilakukan banyak orang. Karena mungkin tertutup rasa ego atau kesombongan
Dari perjalanan Abdullah bin Ammar kita bisa belajar
1.      Luluhkan keegoisan
Hati yang keras kadang terlahir dari keegoisan. Merasa diri benar atau ingin selalu dihargai. Sehingga lahir ego yang tinggi yang sulit berlapang dada, ikhlas dan sabar. Keegoisan melumpuhkan kelembutan hati. Maka luluhkan keegoisan hati dengan belajar untuk hidup bijak.
2.      Lawan kesombongan
Kesombongan mampu mematikan hati. Sehingga tak peduli lagi dengan sebuah kebaikan. Selalu mengatas namakan kebenaran diri diatas segalanya. Sombong membuat hati sulit untuk memaafkan dan meminta maaf. Sombong merasa diri paling benar. Padahal kesombongan seperti bara api di tangan yang  jika dibiarkan mampu membakar seluruh tubuh. Maka belajarlah untuk tawadhu, menyadari diri. Apalah kita hanya manusia yang penuh dengan kekurangan. Masih ingat dengan cerita seorang pengemis tua Yahudi di sudut pasar madinah Al-Munawarah?
Dia selalu mengayatakan bahwa Rasul seorang pembohong, tukang sihir, orang gila yang akan mempengaruhi orang lain. Namun dengan keikhlasan hati, Rasul datang setiap hari memberikan makanan menghaluskannya lalu menyuapi makanan tersebut hingga menjelang Rasul wafat. Hingga akhirnya pengemis tua yahudi dengan ikhlas mengucapkan syahadat karena kebaikan dan keikhlasan Rasulullah, tak pernah membalas kejahatan dengan keburukan. Namun membalasnya dengan sebuah kebaikan. Bagaimana dengan kita?
Mungkin , hanya di sakiti setitik benci kita sudah sepenuh lingkaran hingga menutupi mata hati.
3.      Tak perlu penilaian manusia
Penilaian manusia hanya sebatas benar dan salah atas sesuatu yang tampak. Reward dari penilaian manusia mungkin hanya sebatas pujian, materi ataupun kedudukan. Maka belajarlah untuk tak peduli dengan penilaian manusia. Penilaian yang akan memuat kita lelah.
4.      Jangan pernah menilai orang lain dari luar
Jangan merasa kita paling benar ketika sahabat kita belum hijrah. Tugas kita hanya menyampaikan apa yang kita tahu dengan bijak. Mengajak mereka tanpa memaksa. Hasil akhirnya ALLAH yang menentukan. Jangan pernah menilai seseorang dari luar, mungkin saja keikhlasanannya melebihi kita
5.      Perbaiki hubungan dengan manusia untuk mendapatkan keridhoan ALLAH
Bagaimana ALLAH akan memaafkan kekhilafan kita di akhirat kelak jika urusan kita dengan manusia belum selesai. Kita belum sempat memaafkan atau meminta maaf. Perbaiki hubungan dengan manusia maka ALLAH akan mengasihi kita.
      Sujud, tilawah AL-Quran, bersodakoh mampu kita lakukan. Sekarang mampukah kita menjaga hati?
Membersihkannya dengan sifat pemaaf dan tawadhu
Menjaganya dengan sifat sabar dan ikhlas
KEEP YOUR HEART and ALLAH WILL KEEP YOU