Abdullah bin Amr merasa penasaran dengan
seorang lelaki yang disebutkan Rasullah sebanyak 3x sebagai penghuni surga
kelak. Rasa penasarannya membuat beliau memberanikan diri untuk mengunjungi
lelaki tersebut. Dengan alasan sedang bertengkar dengan ayahnya padahal ini
hanya sebuah alasan yang sebenanrnya tidak terjadi. Maka Abdullah Bin Amr
meminta izin untuk tinggal di rumahnya selama beberapa hari.
Setelah berada dalam rumah dengan si penghuni surga Abdullah Bin Amr
tidak melihat ibadah khusus yang dilakukannya. Amar tidak melihat sesuatu yang
istimewa dalam ibadahnya. Akhirnya Abdullah Bin Amr berterus terang bahwa
kedatangannya hanya untuk membuktikan perkataan Rasullah. Akhirnya Lelaki itu
menjelaskan bahwa ibadahnya sama dengan sahabat lainnya, seperti yang Amar
saksikan. Namun dia tidak pernah menyimpan niat buruk, dengki dan dendam
terhadap sesama muslim ataupun yang lainnya. Akhirnya Amar menyadari bahwa
kebersihan hatinyalah yang membuat lelaki tersebut berada di tempat yang mulia.
Sesuatu hal yang mudah namun tidak bisa dilakukan banyak orang. Karena mungkin
tertutup rasa ego atau kesombongan
Dari perjalanan Abdullah bin Ammar kita
bisa belajar
1. Luluhkan keegoisan
Hati yang keras kadang terlahir dari
keegoisan. Merasa diri benar atau ingin selalu dihargai. Sehingga lahir ego
yang tinggi yang sulit berlapang dada, ikhlas dan sabar. Keegoisan melumpuhkan
kelembutan hati. Maka luluhkan keegoisan hati dengan belajar untuk hidup bijak.
2. Lawan kesombongan
Kesombongan mampu mematikan hati.
Sehingga tak peduli lagi dengan sebuah kebaikan. Selalu mengatas namakan
kebenaran diri diatas segalanya. Sombong membuat hati sulit untuk memaafkan dan
meminta maaf. Sombong merasa diri paling benar. Padahal kesombongan seperti
bara api di tangan yang jika dibiarkan mampu membakar seluruh tubuh. Maka
belajarlah untuk tawadhu, menyadari diri. Apalah kita hanya manusia yang penuh
dengan kekurangan. Masih ingat dengan cerita seorang pengemis tua Yahudi di
sudut pasar madinah Al-Munawarah?
Dia selalu mengayatakan bahwa Rasul
seorang pembohong, tukang sihir, orang gila yang akan mempengaruhi orang lain.
Namun dengan keikhlasan hati, Rasul datang setiap hari memberikan makanan
menghaluskannya lalu menyuapi makanan tersebut hingga menjelang Rasul wafat.
Hingga akhirnya pengemis tua yahudi dengan ikhlas mengucapkan syahadat karena
kebaikan dan keikhlasan Rasulullah, tak pernah membalas kejahatan dengan
keburukan. Namun membalasnya dengan sebuah kebaikan. Bagaimana dengan kita?
Mungkin , hanya di sakiti setitik benci
kita sudah sepenuh lingkaran hingga menutupi mata hati.
3. Tak perlu penilaian manusia
Penilaian manusia hanya sebatas benar dan
salah atas sesuatu yang tampak. Reward dari penilaian manusia mungkin hanya
sebatas pujian, materi ataupun kedudukan. Maka belajarlah untuk tak peduli
dengan penilaian manusia. Penilaian yang akan memuat kita lelah.
4. Jangan pernah menilai orang lain dari
luar
Jangan merasa kita paling benar ketika
sahabat kita belum hijrah. Tugas kita hanya menyampaikan apa yang kita tahu
dengan bijak. Mengajak mereka tanpa memaksa. Hasil akhirnya ALLAH yang
menentukan. Jangan pernah menilai seseorang dari luar, mungkin saja
keikhlasanannya melebihi kita
5. Perbaiki hubungan dengan manusia untuk
mendapatkan keridhoan ALLAH
Bagaimana ALLAH akan memaafkan kekhilafan
kita di akhirat kelak jika urusan kita dengan manusia belum selesai. Kita belum
sempat memaafkan atau meminta maaf. Perbaiki hubungan dengan manusia maka ALLAH
akan mengasihi kita.
Sujud,
tilawah AL-Quran, bersodakoh mampu kita lakukan. Sekarang mampukah kita menjaga
hati?
Membersihkannya dengan sifat pemaaf dan
tawadhu
Menjaganya dengan sifat sabar dan ikhlas
KEEP YOUR HEART and ALLAH WILL KEEP YOU
