Senin, 10 Juli 2017

Orang Tua Bukan ATM Anak










Kasih sayang orang tua terhadap anak sepanjang zaman, bahkan tak lekang oleh waktu. Setiap ayah akan bekerja keras agar keluarga mendapatkan kehidupan yang layak. Setiap ibu akan terus belajar bagaimana mendidik anak-anak sebagai titipan dari ALLAH. Jika anak sakit maka orang tua resah bahkan jika mampu tukar saja rasa sakit itu. Pengorbanan orang tua tak bisa digambarkan bahkan tak bisa dia dibayar dengan materi berlimpah sekalipun
      Kasih sayang orang tua terhadap anak bukan berarti selalu mengikuti kemauan anak. Apalagi dalam hal yang bersikap materi. Tidak sedikit orang tua yang “memaksakan diri” memenuhi kemauan anak. Sehingga tanpa disadari anak seolah-olah menjadi king and queen di rumah. Apa yang mereka minta orang tua harus segera membeli.

Jangan malu menceritakan keadaan orang tua kepada anak
Terkadang orang tua menyembunyikan kenyataan hidup dari anak-anak. Sehingga mereka berusaha memenuhi keinginan anak. Ketika anak sudah mulai mengerti tidak ada salahnya orang tua berdiskusi, menceritakan tentang keadaan keluarga. Misalnya ketika orang tua menghadapi kesulitan ekonomi. Berikan pengertian kepada mereka untuk membatasi keinginan dan belajar hidup hemat. Dari kondisi ini diharapakan anak mampu belajar bahwa hidup itu berputar. Tidak selamanya kesenangan berpihak pada kita.

Bentuk kasih sayang bukan selalu materi
Orang tua jangan terlalu percaya diri telah memfasilitasi kebutuhna materi anak tanpa memberika arahan dan pelajaran.  Anak tidak hanya membutuhkan beragam mainan, handphone baru ataupun jalan-jalan di akhir pekan. Namun, mereka pun membutuhkan sentuhan kasih sayang. Jika orang tua hanya memfasilitasi kebutuhna materi tidak ubahnya orang tua seperti ATM bagi anak-anak

Ajarkan anak untuk manage keuangan
Bukan hanya memberikan uang jajan. Namun, orang tua sebaiknya mengajak anak untuk mengatur keuangan. Jika anak sudah paham tentang penjumlahan dan pengurangan tidak ada salahnya mengajarkan mereka untuk mengatur uang jajannya. Misal orang tua memberikan uang jajan untuk satu minggu ataupun satu bulan. Ajarkan mereka menuliskan pemasukan dan pengekuaran kebutuhannya meskipun sangat sederhana. Berikan arahan bahwa hanya seminggu sekali mereka menerima uang jajan. Jika sudah habis ketika belum waktunya maka anak yang harus menanggung konsekuensi sendiri. Kita mungkin kadang melihat anak yang dalam hitungan jam meminta uang jajan, ibu dan ayah layaknya ATM berjalan. Jangan salahkan mereka, namun tanyakan pada diri sendiri. Apakah kita pernah mengajarkan merek untuk disiplin dalam mengatur uangnya?

Membedakan kebutuhan dan keinginan
Sesekali kita ajak diskusi anak-anak, apalagi ketika mereka menginjak dewasa. Bahas dalam diskusi tersebut antara keinginan dan kebutuhan. Jika mereka meminta diberikan handphone baru maka ajak mereka untuk berpikir logis. “ Ibu akan belikan jika handphone kaka rusak dan tidak bisa telpon jika masih bagus maka pakai saja dulu. Karena ini keinginan kaka bukan kebutuhan”

      Orang tua akan terasa sulit diawal dan mungkin anakpun tidak menerima begitu saja. Namun, jika ada komunikasi yang baik dengan mereka. Maka mereka akan paham sebuah pembelajaran yang orang tua mereka sedang terapkan.

Anak adalah aset paling berharga. Sebuah pembelajaran harus orang tua terapkan sedini mungkin jangan pernah menunggu nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar